sampurasun

Senin, 18 Juli 2011

Penyajian Wayang Topeng Malang

Penyajian Wayang Topeng Malang

Penyajian wayang topeng di Malang dapat diperhatikan pada pagelaran yang disajikan oleh perkumpulan wayang topeng Asmorobangun dari Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, yaitu sebagai beirkut:
Lakon Panji dipresentasikan berdasarkan pembagian adegan sebagai berikut:
Adegan Pembukaan : Tari Patih
Setelah gending giro selesai dibunyikan pertunjukan utama segera dimulai. Para panjak (niyaga/penggamel) ‘penabuh gamelan’ berhenti sejenak, mereka mulai mempersiapkan diri untuk memulai pertunjukan. Sebagian besar di antara mereka menggunakan jeda tersebut untuk cemilan kue-kue yang berupa ketela pohon, ubi, atau pisang rebus, dan tidak ketinggalan minum kopi hangat.
Ki dalang juga menyiapkan diri, membuka beberapa catatan khusus yang nanti harus diucapkan. Seringkali dalang berbincang-bincang dengan pengendang. Mereka membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan sesuatu yang harus disepakati, khususnya peralihan adegan atau waktu-waktu memulai adegan dan mengakhirinya.
Setelah jeda dianggap cukup, pembonang (penabuh instrumen Bonang) mulai membunyikan instrumennya untuk mengawali gending Beskalan. (Gending Beskalan dilakukan dengan buka bonang). Gending ini khusus untuk mengawali pertunjukan Wayang Topeng Dusun Kedungmonggo. Gending Beskalan ini juga digunakan untuk tari putri pada pembukaan wayang kulit atau pertunjukan tayub kuna. Akan tetapi gending Beskalan pada wayang topeng Kedungmonggo sebagai musik tari topeng patih, yaitu sebuah bentuk tari pembukaan yang ditarikan oleh dua orang penari bertopeng abang (merah) dan putih (putih). Penduduk setempat seringkali menyebut dengan istilah topeng bang-tih (akronim dari abang dan putih), atau Beskalan Patih. Tradisi pembukaan dengan atraksi tari sesuatu yang sifatnya umum di Jawa timur, hal ini dimungkinkan terkait dengan pendirian candi bentar, candi lawang; sebuah bangunan gerbang menuju candi utama.
Bonang mulai dibunyikan (buka bonang), berikutnya disahut tepakan kendang, selanjutnya diikuti secara serentak instrumen gamelan lainnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara gongseng berbunyi. Suara gongseng tersebut sangat jelas terdengar dari balik slambu. Kedua penari topeng putih keluar terlebih dahulu, berikutnya diikuti oleh penari yang bertopeng merah. Gerakan dua penari Topeng Patih ini sama, mirip komposisi tari bersama. Gerakan mereka adalah tergolong jenis kasaran.
Menurut beberapa informan, yang dimulai dari keterangan Madya Utomo, menjelaskan bahwa Beskalan berasal dari istilah bahasa Jawa setempat (Malang), yaitu dari akar kata bit-kal. Bit berawal dari kata Bibit atau bakal, dan kal berasal dari kata cikal atau awal (kawitan), perpaduan dari kata tersebut menjadi kata cikal-bakal atau bibit kawit, yaitu asal mula. Hal ini dibenarkan juga oleh Rasimoen dan Karimoen. Bahwa Beskalan itu memang benar berasal dari kata bahasa Jawa yang disebut cikal, yang artinya awal atau permulaan. Pengertian ini ditambahkan oleh Sumantri, bahwa kata cikal itu berkaitan dengan kelapa (cikal). Hubungan ini menunjukkan adanya kaitan dengan sebutan gending kalapa ndhek (kelapa pendek), gending tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Gending Beskalan. Sumantri menandaskan, bahwa istilah Gending Beskalan dalam kalangan masyarakat tayub sebenarnya tidak populer, tetapi istilah kelapa ndhek cukup dikenal. Sungguhpun Chattam AR masih meragukan, tetapi disadari benar, bahwa ada kemungkinannya istilah itu bersifat lokal atau nama kelapa ndhek itu dikenal masyarakat dalam masa tertentu.
Moch. Soleh Adipramono mendukung, bahwa pengertian istilah Beskalan itu memiliki makna awal atau permulaan. Kata beskalan seringkali dikaitkan dengan “bakal” atau “bakalan”, yaitu barang yang belum jadi. Artinya masih berupa bahan baku.
Pertimbangan itu dikaitkan dengan seni pertunjukan yang erat kaitannya dengan tarian tersebut, seperti ludruk atau tayub. Pada seni pertunjukan ludruk atau tayub pada waktu yang lampau selalu diawali dengan sajian tari Beskalan sebagai tari pembukaan. Dengan demikian pengertian itu ada benarnya. Asumsi M. Soleh Adipramono ini dibenarkan juga oleh Chattam A.R., mengingat dalam wayang topeng Malang tari pembukaan, yaitu tari yang untuk mengawali pertunjukan juga disajikan tari Beskalan Patih. Tarian ini berupa tari putra yang disajikan dua orang yang memakai topeng putih (bisa marah putih), adapun gending tarian tersebut adalah gending Beskalan. Tidaklah mustahil kalau gending tersebut sudah akrab dengan masyarakat penikmatnya. Tetapi, Chattam A.R. juga menambahkan, bahwa bisa jadi Beskalan yang diartikan sebagai awal atau permulaan itu merupakan arti yang sesungguhnya dalam perkembangan tari di Malang, yaitu sebuah bentuk tari yang merupakan sumber atau tari yang mengawali semua bentuk tari yang berkembang, utamanya tari yang berkembang pada seni pertunjukan Tayub atau tari Remo (tari yang sekarang menjadi tari pembukaan sebelum dipertunjukkan Sandiwara Ludruk).

0 komentar:

Posting Komentar